Rojer

Colorful-Flowers-Wallpaper-HD

02 Dec Rojer

Rojer.
Penjual pulsa dan pulpen keliling di kampus IPB Dramaga.
Rojer selalu gembira, menyapa mahasiswa dengan riang dan semangat dengan gaya centil tapi sopannya.

“Cie.. Dita.. Yang kerudung biru namenye sape nih?” Entah berapa kali ia selalu menanyakan nama saya pada Dita atau teman-teman saya yang lain.
Mungkin karena setiap jawaban yang kami beri selalu berbeda setiap ia bertanya tentang nama saya. ‘Aisyah’, ‘Cinta’, ‘Kasih’ selalu menjadi jawaban nama favorit kami untuk memberi tahu Rojer nama saya. Seakan tahu, Rojer selalu bilang “Ah, bohong.. Bohong tuh dosa lho!”
Kami pun tertawa karena melihat raut wajahnya yang jenaka.
Rojer terkenal dengan teriakan kencang dan slogannya yang berbunyi “Pulsa.. Pulsa.. Ayo periksa pulsa sebelum jauh..!” atau disaat musim UTS dan UAS ia akan masuk ke ruang ujian sebelum ujian dimulai, “Pulpen.. Jangan sampe pulpen macet ditengah ujian yee..”
Rojer terkadang suka memberi ‘ceramah’ kecil tentang kehidupan saat kita sedang istirahat makan siang di kantin Sapta. ‘Ceramah’ kecil yang terkadang membuat kami termenung bahwa hidup hanya sementara, tidak ada yang perlu disombongkan dari diri masing-masing karena di mata Allah semua sama, yang berbeda hanyalah akhlak.
Mungkin terdengar klise, atau sudah terlalu sering Anda dengar sejak TK dari guru-guru maupun
orangtua tentang hal itu. Tapi mendengar langsung dari seorang penjual pulsa, tanpa ia sendiri bermaksud ‘menceramahi’, kalimat tersebut menjadi semakin ‘bermakna’ dan membekas di hati dan pikiran. Selalu menjadi pengingat hidup saya hingga saat ini.
Ada satu cerita tentang Rojer yang baru saja dikirim melalui grup WhatsApp TPB saya, begini isinya:
Pagi ini, dosen belum hadir. Dari kejauhan terlihat sosk Rojer sedang melangkah. Benarlah sebuah dugaan, ia berjalan masuk ke kelasku.
“Assalamu’alaikum!!” Sapanya penuh semangat. “Cek pulsa sebelum jauhh..!” Dia keluarkan kalimat andalannya.
“Wooi.. Rojer punya pertanyaan nih. Yang bisa jawab nanti Rojer kasih pulsa gratis..”
 ‘Wah lumayan nih pulsa gratis.. Pertanyaan dari bapak tukang pulsa mah gampangan’ begitu kataku dalam hati,angkuh nan meremehkan orang *istighfar*
 
“Pertanyaannya nih.. Apa dua ‘pembatas’ yang terbesar di dunia ini??” tanya Rojer.
Wadeeh.. Pertanyaan macam apa ini? Sontak satu kelas sahut-menyahut menjawab. Tapi tidak ada yang benar. Kami dibuat penasaran.
“Gimana, nyerah niiih?” goda Rojer.
“Iya nyerah..” jawab anak sekelas serentak.
Penasaran kami menjadi-jadi jawaban macam apa yang akan keluar??
 
“Yee.. pada gabisa jawab, bukan dosen aja yang bisa kasih pertanyaan, Rojer juga bisa. Haha.” dia meledek kami, mahasiswa.
 
“Naah jadii.. ‘pembatas’ terbesar di dunia ini.. Yang pertama, tidak bisa melihat nikmat Allah yang begitu banyak dan besaar. Yang kedua, tidak bisa melihat kekurangan diri sendiri..”
 
Sejenak kelas diam membisu.
 
Jawaban macam apa ini? Tak habis pikir bapak penjual pulsa ini..
“Hahaha.., gajadi yee pulsa gratisnyee..” Rojerpun langsung melangkah meninggalkan kelas.
 
(Cerita ini saya kutip dari cerita Farras, Managemen 50)
Dari cerita diatas, saya mendapat pelajaran yang lain lagi dari Rojer, sang penjual pulsa dan pulpen keliling IPB. Dan sungguh menampar hati kecil saya yang terkadang tidak lepas dari rasa tidak bersyukur, rasa tidak puas dan enggan atau takut melihat kekurangan diri sendiri.
Belajar itu bukan hanya dari guru, orang tua, dosen saja. Tetapi dari orang seperti Rojer lah saya merasa bisa lebih ‘melihat dunia’ yang sebenarnya.
Terimakasih Rojer!
Sampai ketemu lagi suatu saat. Mungkin disaat itu kalau Rojer kembali menanyakan nama saya, saya akan menjawab dengan benar. Kkk^^
No Comments

Post A Comment