My All is in You (Chapter 10)

IMG_6199

24 Jun My All is in You (Chapter 10)

Author: nha_wina

Title : My All Is In You (Chapter 10)

Cast :

  1. Kim Jong Woon (Yesung)
  2. Lee Shayna
  3. Kim Ji Hyeon
  4. Member SJ

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-15

Length : Chapter

Catatan : FF ini juga dipublish di blog pribadi author nhawina.com

Selamat menikmati..^^ Jangan lupa komen dan sarannya ya.. 

Note: Hati2 typo dan perpindahan POV yang cepat. :)

“Ngomong-ngomong, kau tidak heran kenapa kami bisa masuk ke dalam apartemenmu?” tanya Eunhyuk sambil tersenyum lebar, matanya berkedip jenaka.

Tapi aku bingung dengan pertanyaannya. “Jelas saja Shayna membukakan pintu untuk kalian, bukan?” tanyaku balik.

Sekejap suasana menjadi tegang. Jantungku kembali berdegup kencang.

“A.. aku yang membukanya. Memasukkan beberapa angka yang kupikir pasti menjadi kode rumahmu, hyung. Lagipula kami bosan. setelah memencet bel selama 10 menit, tidak ada yang membuka pintu apartemenmu.”

Aku tidak menghiraukan penjelasan Kyuhyun, aku berjalan cepat kearah kamar Shayna dan mengetuk pintunya dengan keras. “Shayna! Buka pintunya. Lee Shayna!”

Tidak ada jawaban. Semua yang ada disini hanya bisa saling pandang. Aku mencoba membuka pintunya yang ternyata tidak terkunci. Tidak.. Shayna tidak ada disini. Aku masuk kedalam kamarnya, mencari sesuatu. Nihil, tas yang biasa digunakan Shayna tidak ada. Aku mengingat saat ia datang ke apartemen ia menggunakan dua koper besar. Yang tersisa dikamarnya saat ini hanya koper besar, koper berukuran sedangnya tidak ada.

Sesak. Sangat sesak. Aku bahkan tidak dapat mengatakan apa-apa saat para member SJ menanyaiku, entah tentang apa. Aku terduduk di ranjang Shayna. Ryeowook merangkulku. Kudengar samar-samar Kyuhyun berusaha menghubungi Shayna, tapi tampaknya tidak berhasil. Yang aku inginkan hanya menangis. Ya, aku sadar sekarang, betapa sakitnya ditinggalkan oleh orang yang kau sayangi.

Sangat.

Sakit.

Author POV

Leeteuk melaporkan penemuan bukti baru pada Lee So Man. Petinggi SM itu terdengar lega. Ia mengatakan pada Leeteuk, bahwa tidak perlu mengadakan konferensi pers. Lee So Man yang akan menghandle semuanya. Pria lanjut usia itu juga akan mengajukan gugatan atas pencemaran nama baik ke Ji Hyeon. Walaupun begitu, Yesung tetap ingin memberitahu kebenaran pada ELFs secara langsung, jika keadaan sudah memungkinkan. Juga memberitahu ELFs tentang statusnya yang sudah menikah. Permintaan yang mendadak, tapi akhirnya berhasil disetujui pihak SM.

Jong Woon’s POV

Apartemen Yesung dan Shayna

Oppa, tidak bisakah kau melihatku sekali saja? Hanya melihatku? Aku tidak memaksamu untuk  mencintaiku, oppa. Aku hanya ingin kau menatap diriku yang mencintaimu sekali saja. Mengharagai perasaanku, sekali saja. Hanya itu oppa. Tapi mungkin untuk hal semudah itu oppa tidak bisa. Ani.. tidak mau. Haha.. Aku sungguh bodoh bukan? Meminta hal yang seharusnya memang tidak boleh aku pinta?” ia terdiam beberapa saat, lalu tersenyum seperti tidak terjadi satu pun hal buruk padanya dan menatapku kembali. Aku melihat setitik air mata di sudut matanya. Bibir mungilnya kembali mengeluarkan kalimat setiap aku pulang, “Ah, apakah kau lelah oppa? Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Mandilah dulu, aku akan menyiapkan makan malam sekarang.”

Kata-kata itu, tatapan mata sedihnya saat mengatakan hal itu padaku, terus menerus terulang dalam kepalaku beberapa hari ini. Ingatan yang masih hangat dalam pikiranku, karena hal itulah yang terakhir diucapkannya sebelum dia pergi begitu saja saat aku sedang menyiapkan diri untuk mengatakan aku mencintainya. Bodohnya, setelah ia mengcapkan itu, aku tidak bisa berkata apapun. Tatapan dinginkulah yang ku beri padanya. Tatapan yang menyembunyikan perasaanku yang sedang gugup karena berhadapan dengannya. Gugup karena menatap bola mata kecoklatan yang sangat indah miliknya.

Sekarang, aku hanya dapat memukul kepala ku sendiri. Aku yang bodoh, Shayna-ya. Aku yang bodoh. Aku yang bodoh karena menyia-nyiakanmu begitu saja. Aku yang bodoh karena sudah menyakitimu terus menerus. Aku yang bodoh karena baru menyadari perasaanku di saat-saat terakhir sebelum kau pergi meninggalkanku tanpa ucapan sedikitpun, bahkan tanpa aku tahu hari itu adalah hari terakhir kita bersama. Jika aku menemukanmu nanti, apakah kau masih mau menerimaku Shayna-ya? Apakah kau akan masih mencintaiku? Ani, diatas semua itu, apakah kau baik-baik saja? Aku tak peduli apapun. Aku terima jika kau tidak menerimaku lagi, tidak mencintaiku lagi. Asalkan kau baik-baik saja. Asalkan aku masih melihatmu bernafas dengan bebas. See? Aku merindukanmu hingga aku tidak bisa tidur setelah hari kepergianmu. Aku mencintaimu sedalam ini hingga aku tidak memikirkan perasaanku, hanya memikirkan keadaanmu. Mencintaimu dengan sapenuh hatiku. Aku akan segera menemukanmu, Shayna-ya, walaupun hanya untuk melihatmu masih bernafas.

Akhir-akhir ini aku seperti mayat hidup. Ya, sejak hari kepergiannya hampir sebulan yang lalu. Super Show 6 di Singapur dan Jakarta aku lalui dengan setengah hati. Walaupun tentu saja aku merasakan sedikit semangat karena support ELFs yang tidak pernah mati.

Ah, aku jadi teringat. Saat Super Show 6 di Jakarta, aku seperti merasakan kehadiran Shayna. Untunglah aku memang ada pekerjaan untuk melakukan pemotretan di Jakarta, yah untuk majalah yang dikelola sahabatku.  Jadi setelah Super Show 6 aku stay di Jakarta selama beberapa hari. Lagipula took kacamataku memang sedang mengadakan pop up store juga disana, dikepalai Jong Jin.

Aku menyempatkan diri untuk keliling Jakarta. Semata-mata hanya untuk mencari keberadaan gadisku. Aku kunjungi satu persatu tempat-tempat yang biasa ia ceriatakan padaku saat ia kuliah di Indonesia. Mal-mal favoritnya pun berkali-kali aku kunjungi. Namun hasilnya nihil. Dengan berat hati aku kembali ke Korea.

Hari terasa lambat. Aku bingung harus mencarinya kemana lagi. Aku tidak ingin menyerah, tapi aku harus bagaimana lagi? Keluargaku dan keluarganya pun benar-enar khawatir dengan keadaannya. Berkali-kali kulihat Tuan Lee dan Nyonya Lee menangis saat aku berkunjung kesana, atau saat mereka datang kerumah orangtuaku. Shayna memutuskan semua kontak terhadap siapapun, termasuk orangtuanya. Ya Tuhan.. Aku berjanji, dengan sepenuh hatiku, aku benar-benar akan menjaganya jika aku menemukannya suatu hari nanti.

Autor’s POV

Jong Woon atau biasa di panggil Yesung, namja berambut hitam dengan mata sipit yang memabukkan sekaligus mematikan itu menghela nafas keras. Tangannya terulur untuk membuka pintu kamar yang selama ini ia hindari. Wangi vanila flower aroma khas wanita yang dirindukannya selama sebulan lebih langsung menghantam indra penciuman Jong Woon saat pertama kali ia melangkah masuk ke dalam ruangan Shayna. Jong Woon sangat terkejut melihat begitu banyak foto ia dan Shayna yang terpajang dalam ruangan berdinding biru langit berhiaskan gumpalan-gumpalan warna putih berbentuk awan. Jong Woon menatap satu persatu foto mereka. Ya, saat Shayna pergi ia hanya fokus mencari Shayna, tidak memperhatikan kamar Shayna seperti apa. Senyum kecil yang hilang selama Shayna pergi menghiasi wajah tampannya sekarang.

Tiba-tiba mata sipitnya menangkap sesuatu di bawah tempat tidur single milik Shayna. Jong Woon meraih benda-benda yang menjadi pusat perhatiannya sekarang. Ternyata tumpukkan buku gambar yang berjumlah lebih dari 10 buah. Di pojok kiri buku gambar tersebut ada nomer yang ditulis Shayna dengan spidol hitam. Jong Woon mencari buku gambar nomor 1 -yang ternyata sudah agak kusam- dan membukanya. Jong Woon mengerenyitkan dahinya saat membuka halaman pertama, di dalamnya terdapat rumput kering yang tertata rapih membentuk sebuah gambar padang rumput serta gambar dari krayon yang menggambarkan –Jong Woon yakin itu gambaran Shayna- dua anak kecil  yang sedang duduk bersama menatap sunset. Di belakang gambar itu ada tulisan kecil milik Shayna yang masih berantakan, sepertinya tulisan itu di tulis saat Shayna masih kecil.

“Hari ini hari pertama aku berada di Korea, aku tinggal di Cheonan. Appa ingin kami tinggal di rumah harabeoji dan halmoni setelah beberapa bulan lalu mereka meninggal. Aku tidak ikut ke pemakaman mereka. Hanya Appa dan Bunda yang pergi saat itu, sedangkan aku dititipkan di rumah nenek dan kakek. Rumah harabeoji dan halmoni sangat bagus. Walaupun tidak seluas rumahku saat di Indonesia dulu, tetapi aku cukup senang karena mendapatkan kamar di atas sendiri. Kata Bunda, di Korea aku akan mendapatkan banyak teman, bahkan mungkin lebih banyak daripada di Indonesia, karena aku sudah lancar berbahasa Korea dan cukup cantik. Untunglah Appa selalu mengajarkanku bahasa Korea. Aku berjanji untuk menulis di buku diaryku ini degan Hangeul. Jadi aku bisa lebih lancer lagi bahasa Koreanya.^^ Ahh.. Di Indonesia tidak sedingin ini, aku rindu hujan di kotaku. Kota hujan. Disini hanya ada daun berwarna merah, kuning dan coklat. Kata namja yang aku temui tadi di padang rumput, itu karena saat ini sedang musim gugur. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati, kapan datangnya musim hujan di Korea? Aku akan menantikan musim itu. Ah, namja di padang rumput itu adalah teman pertamaku di Cheonan, bahkan di Korea. Namanya Kim Jong Woon. Tadi sore aku sedang berjalan di sekitar rumahku yang memang tidak terlalu ramai. Aku mendengar suara yang sangat indah dari padang rumput. Ternyata ia sedang bernyanyi. Aku mendekatinya perlahan-lahan, aku sangat suka mendengar suara merdunya. Dalam imajinasiku aku membayangkan dia adalah malaikat padang rumput atau mungkin ia seorang pangeran yang tersesat dan aku putrinya, tentu saja. Aku tidak melihat jelas wajahnya karena ia duduk membelakangiku. Saat aku ingin berjalan mendekatinya lebih jauh, tiba-tiba ia menatapku. Wajahnya sangat tampan! Lebih tampan dari Appakku. Benar kata Appa dan Bunda, pria Korea tampan-tampan. Benar-benar seperti malaikat. Dia mengulurkan tangannya dan mengajakku duduk di sampingnya. Ini pertama kalinya tanganku di genggam oleh seorang namja selain keluargaku! Jangtungku serasa mau meledak. Kami pun berkenalan. ‘Kim Jong Woon’ katanya dengan suaranya yang berat. ‘Lee Shayna’ kataku sambil tersenyum. Ternyata ia sudah berumur 13 tahun. Emm.. 14 tahun kalau di Korea. 7 tahun lebih tua dariku sehingga aku harus memanggilnya Jong Woon oppa.Tunggu.. berarti di Korea aku sudah berumur 7 tahun!  Dia bertanya dari mana asalku. Ternyata dia tahu Indonesia dari peta dunia. Ah, mungkin lain kali aku akan banyak bercerita tentang Indonesia padanya. Kata Jong Woon oppa, kami akan berteman baik. Jadi masih banyak waktu untuk berbagi cerita dengannya. Dia akan menjagaku seperti keluarganya sendiri, karena aku sangat manis dan cocok menjadi adiknya. Aku sangat senang. Ia bilang, suatu saat nanti ia akan menjadi penyanyi terkenal. Atau menjadi designer ternama. Ah, menurutku ia cocok menjadi apa saja bahkan menjadi pilot sekalipun.  Jong Woon oppa sangat tampan. Inilah hari pertamaku di Cheonan. Inilah pertama kalinya aku berpegangan tangan dengan namja selain keluagaku, pertama kalinyna ada seseorang yang berjanji akan menjagaku, dan pertama kalinya merasakan sesak saat berdekatan dengan namja selain keluargaku. Apakah ini yang orang-orang sebut cinta pada pandangan pertama? Kkkk… Aku akan selalu menagih janjimu Kim Jong Woon oppa^^”
 
Di bawan tulisan berantakan milik Shayna kecil, terdapat cetakan tangan mungil yang pastinya milik Shayna. Tertulis keterangan, ‘Pertama kalinya tanganku di genggam oleh namja. Sangat hangat rasanya. Apakah Jong Woon oppa akan menggenggam tanganku lagi saat aku kedinginan di musim dingin nanti? Kkk..’

Jong Woon tersenyum mengingat pertemuan pertamannya dengan Shayna.

Jong Woon’s POV

Saat itu musim favoritku, musim gugur. Sore itu Jong Jin, adikku satu-satunya mengajakku bermain bola di lapangan bersama teman-teman lainnya. Entah mengapa aku lebih memilih menyendiri ke padang rumput dekat rumah. Pemandangan disana sangat indah. Karena itulah aku senang menyendiri disana. Suasana yang tenang, hati yang tenang, membuatku bernyanyi dengan riang.

Aku terus bernyanyi hingga terdengar suara rumput kering yang terinjak, langkah kaki kecil yang sepertinya mendekatiku. Aku menoleh, dan untuk pertama kalinya aku melihat pemandangan yang jauh lebih indah dibanding pemandangan yang biasa aku lihat di padang rumput. ‘Ya Tuhan, apakah kau mengirim seorang bidadari mungil untukku?’ tanyaku dalam hati saat melihat betapa cantiknya yeoja mungil yang juga terkejut melihatku.

Aku mendekatinya yang masih terdiam di sisi pohon, meraih tangan mungilnya yang sangat pas dalam genggamanku, untuk duduk bersama memandang pemandangan laut di bawah kami. Ya, padang rumput itu berada di atas bukit kecil yang menghadap ke lautan di bawahnya.

‘Kim Jong Woon’ kataku tanpa melepaskan genggaman tanganku. Entah mengapa, rasanya nyaman memegang tangan mungil yang pas di dalam genggamanku.

‘Lee Shayna’ ia memperkenalkan dirinya, menatap mata sipitku dengan mata besar kecoklatan yang indah miliknya, tak lupa dihiasi senyum yang sangat menawan. Ah, suaranya sangat merdu, bahkan ketika ia hanya menyebut namanya.

‘Ah, Jong Woon.. Pemandangan disini sangat indah, tetapi mengapa pohon-pohon disini hanya berwarna merah, kuning dan coklat?’ tanya yeoja mungil itu dengan logat yang masih agak kaku. Kelihatannya ia bukan dari Korea, melihat matanya yang besar, kulitnya yang putih susu, rambut panjang ikal gantungnya yang berwarna coklat tua, dan pertanyaan anehnya. Jelas-jelas ini musim gugur, mengapa ia masih saja bertanya aneh seperti itu?

Aku menatap matanya lekat-lekat, ‘Kau tidak tahu musim gugur? Darimana kau berasal? Apakah bukan dari Korea?’

Shayna mengangguk dengan semangat. ‘Ya, aku dari Indonesia. Kau tahu Indonesia? Hari ini adalah hari pertamaku di Korea. Ah, musim gugur? Di Indonesia hanya ada musim panas dan hujan. Apakah ada musim seperti itu disini, Jong Woon?’ tanyanya dengan wajah yang sangat menggemaskan.

‘Aku sangat ingin memiliki adik sepertinya, mungkin rasanya akan sangat menyenangkan melihat yeoja mungil ini selalu berada di dekatku’, pikirku saat itu.

Aku berdecak saat ia hanya memanggilku dengan namaku tanpa sebutan oppa. ‘Kau lebih kecil dariku. Berapa umurmu? Harusnya kau memanggilku dengan sebutan oppa, kau tahu?’

Ia hanya tertawa kecil, ‘Ne, Arasso Kim Jong Woon oppa.’

Aku pun menjawab pertanyaan-pertanyaan polosnya tadi dengan sabar, ‘Ya, di Korea ada musim panas juga, selain itu ada musim gugur, semi dan salju. Hujan terkadang turun disaat musim panas, semi dan gugur. Aku tahu Indonesia hanya dari peta dunia. Aku belum pernah kesana. Mungkin jika aku menjadi penyanyi hebat nanti, aku akan mencoba kesana. Kau harus menemaniku suatu saat nanti untuk menunjukkan rumahmu di Indonesia, Shayna-ya.’

Mata bulatnya bersinar menatapku dengan antusias. ‘Ne, pasti aku akan menemanimu. Apakah sekarang kita sudah berteman, oppa?’

Aku mengerenyitkan dahiku mendengar pertanyaan yang sangat-sangat tidak terduga itu, ‘Tentu saja kita berteman. Kita sudah berbincang-bincang sejak tadi, bukan? Aku rasa kita bisa menjadi teman yang baik.’

Kulihat Shayna mengangguk senang. Aku pun menepuk puncak kepalanya dan berkata, ‘Ani, kurasa kau lebih cocok menjadi adikku.’

Shayna tertawa gembira dan menatapku dengan tatapan yang menyilaukan, ‘Jeongmalyo? Aku sangat ingin memiliki kakak. Ah, ternyata di Korea aku bisa punya kakak.’

Kami pun berbincang hal lainnya, umurnya baru 6 tahun, ah, mengikuti umur Korea maka ia sudah berumur 7 tahun. Tetapi tubuh mungilnya terlihat seperti baru berumur 4 tahun di mataku. Haha.. Waktu pun tidak terasa cepat berlalu, hari semakin senja, akupun mengantarkannya pulang. Ternyata rumahnya tepat dibelakang rumahku. Rumah yang dulu ditempati oleh Gong Suk Halboji dan Nae San halmoni. Mereka meninggal beberapa bulan yang lalu. Astaga..Apakah Shayna cucu mereka?  

Tepat di depan pagar rumahnya, ia memegang tanganku dan menatapku dengan serius, mimik seriusnya membuatku ingin tertawa karena ia sangat menggemaskan. ‘Oppa, kau tahu? Kau pasti akan menjadi penyanyi yang hebat. Kau juga akan menjadi designer ternama. Aku akan terus mendukungmu, oppa. Aku suka suaramu, kupikir lebih baik kau menjadi penyanyi. Dan terima kasih untuk hari ini, terimakasih sudah mau menjadi kakakku.’

Aku membelai rambut halusnya, baru kali ini ada yang menyukai suaraku dan mendukungku menjadi penyanyi. ‘Gomawo. Kau fans nomer satuku, sekaligus yeodongsaengku, ne? Haha.. Kau tahu Shayna-ya? Mungkin akan terdengar aneh untukmu, sejak pertama kali kita bertemu tadi, aku berjanji dalam hati aku akan menjagamu. Selalu.’

Shayna tersenyum sangat manis, ‘Yaksokhe?’ tanyanya sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

Aku pun meraih kelingking mungilnya dan mengikat dengan kelingkingku, menandakan aku berjanji. ‘Ne, yaksokheyo. Aku akan menjagamu. Yeongwonhi.’  

Aku memejamkan mataku. Kembali dari ingatan masa laluku. Aku sudah berjanji untuk menjaganya bahkan sejak di awal kami bertemu. Tetapi nyatanya sekarang adalah aku tidak tahu dimana dia. Aku baru menyadari sekarang, ternyata aku sudah tertarik pada Shayna dari awal kami saling bertatapan. Aku merasa nyaman sejak pertama kali memegang tangan mungilnya. Aku selalu merasa tenang untuk mengeluarkan semua isi hatiku, cerita-ceritaku, pemikiran terdalamku padanya. Tapi kenapa aku baru menyadarinya setelah hampir 16 tahun mengenalnya? Shayna-ya, mianhe.. Aku mengingkari janjiku untuk menjagamu.

Aku melihat halaman selanjutnya, ia bercerita tentang Jong Jin, eomma dan appaku. Ia sangat senang berkenalan dengan keluargaku. Ya, eommaku jatuh cinta pada Shayna dari awal mereka bertemu. Eomma hanya memiliku aku dan Jong Jin, tidak punya anak perempuan. Sehingga ketika aku membawa Shayna dan bilang pada eomma aku menganggapnya sebagai adikku, eomma menyetujui dengan riang gembira. Apalagi ternyata kedua orang tua kami memang sudah dekat dari dulu.

Sejak saat itu, jika aku tidak ada atau sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah, Shayna akan bermain dengan Jong Jin dan eomma. Appaku sibuk bekerja, tetapi ia sangat senang ketika beberapa kalli Shayna ikut makam malam bersama dengan kami.

Halaman berikutnya aku buka secara acak. Shayna menggambarkan seragam sekolahnya dan seragam sekolahku. Gambarnya sangat bagus untuk ukuran bocah berusia 7 tahun. Ya, Shayna memang sangat suka menggambar dan gambarnya sangat bagus. Di belakang gambar tersebut lagi-lagi terdapat cerita Shayna.

“Kim Go Jang menghampiriku saat aku sedang memakan bekal makan siangku bersama Lee Hae Ra dan Park Min Jae. Ia memberikan ku sekotak susu rasa melon. ’Saranghae Lee Shayna’ katanya. Aku bingung. Hae Ra dan Min Jae hanya bengong. Ya, aku tahu Kim Go Jang adalah pria tertampan di sekolahku. Ah, aku tidak tahu apa itu cinta. Aku saja tidak tahu apakah Kim Jong Woon oppa benar-benar cinta pertamaku? Karena hingga saat ini jangtungku terus berdegup kencang jika berdekatan dengan Jong Woon oppa. Ya, hanya didekatnyalah jantungku menjadi bandel seperti itu. Apakah karena jantung kita berdegup kencang jadi dinamakan cinta?  Apakah aku harus bertanya pada Appa dan Bunda apakah itu cinta? Ataukah langsung bertanya pada Jong Woon oppa? Nan mollayo.. Aish.. akhirnya aku hanya dapat berkata ‘Mianheyo Kim Go Jang sunbae.’ Go Jang sunbae hanya mengacak rambutku sambil tertawa pelan. ‘Gwenchanayo uri Shayna-ya. Aku hanya ingin mengatakannya saja.’ Lalu ia pun keluar dari kelasku. Dan seketika banyak anak perempuan yang menatapku dengan pandangan aneh. Wae? Apakah aku salah?”  

Masih panjang cerita Shayna saat ini. Tapi aku memilih untuk mengingat kejadian selanjutnya.

Saat itu hari sudah sangat sore. Matahari hampir terbenam. Shayna kecil bermain dengan cerianya bersama Jong Jin di ruang tengah rumahku, melihat kedatanganku ia berlari meninggalkan Jong Jin dan memelukku dengan erat.

“Selamat datang oppa. Apakah kau lelah?”

Aku tersenyum kecut mengingat percakapan itu. Menyadarkanku bahwa ternyata kalimat itu bahkan sudah sejak kecil ia ucapkan saat aku pulang. Menunjukkan betapa pedulinya ia padaku. Aish, kenapa aku baru sadar sekarang bahwa pelukannya selau bisa membuatku tenang? Menghilangkan lelahku dalam sekejap. Lebih ampuh daripada saat eomma memelukku ataupun saat aku memeluknya dari belakang.

Aku yang tadinya memang merasakan lelah yang sangat, hilang begitu saja dengan sambutan Shayna.  “Eoh. Oppa sangat lelah. Apakah kau tidak ada tugas? Kenapa waktumu hanya kau habiskan dengan bermain bersama Jong Jin? Bahkan kau belum mengganti bajumu, Na-ya. Kau tahu? Bau keringatmu itu menyebar ke seluruh ruangan rumahku.” kataku sedikit menggoda Shayna, sambil menggandeng tangan mungilnya dan mengajaknya duduk di sofa. Jong Jin kembali ke kamarnya. Eomma menyiapkan makan malam, sedangkan Appa belum pulang.

Shayna menatapku dengan kesal. “Aigoo.. uri Jong Woon oppa sangat rewel hari ini. Aku sangat wangi, kau hanya iri karena tidak bisa wangi seperti aku, oppa.”

Aku hanya tertawa kecil mendengar celotehannya yang tidak masuk akal. “Aku ganti baju dulu.” Aku hendak beranjak dari sofa.

Shayna menahan tanganku sehingga aku duduk lagi di sofa. “Chakkaman oppa.”

Aku pun menatap Shayna dengan pandangan bertanya. Pasti ada suatu kejadian di sekolahnya hingga membuatnya gelisah seperti ini. Kemarin ini ada teman perempuannya yang iri dengan kemampuannya dalam pelajaran, seni dan tentu saja wajahnya. Sehingga selalu mengerjai Shayna. Untunglah Shayna mempunyai titik lemah. Ya, olahraga adalah kelemahannya. Haha.. Temannya itu pun berhenti mengerjai Shayna setelah melihat betapa payahnya Shayna dalam berolahraga. Sekarang apalagi?

“Wae? Ada yang mengerjaimu lagi Na-ya?”

Ia menggelengkan kepalanya dengan lemah. “Aniyo. Keunyang.. Mm.. Go Jang sunbae mmberiku susu rasa melon. Lalu ia bilang ‘Saranghae, Lee Shayna’”

Jantungku serasa berhenti berdetak. Dadaku terasa panas. “Lalu?” hanya itu yang dapat kuucapkan.

“Aku bilang ‘mianhe’” jawab Shayna dengan polosnya.

Rasanya aku dapat kembali bernafas. Kuhela nafas sepelan mungkin. “Wae? Apakah kau tidak suka dengannya?”

Shayna menatapku dengan pandangan penuh tanda tanya. “Apa bedanya suka dan cinta oppa? Nan johaeyo, nan saranghaeyo. Apa bedanya? Lalu kalau memang Go Jang sunbae menyukaiku.. ani.. katanya ia mencintaiku. Kenapa ia memberiku susu rasa melon? Kau tahu sendiri oppa, aku tidak suka melon! Benar-benar tidak suka melon!” serunya dengan frustasi. Sungguh lucu melihat wajahnya saat ini.

Tapi inilah yang membuatku semakin keras tertawa. Karena susu rasa melon lah namja itu ditolak Shayna. Aigoo, dan dengan polosnya ia bertanya apa bedanya cinta dan suka? Hahaha.. betapa polosnya adikku yang satu ini. Jong Jin saja sudah memiliki kekasih sekarang. Aku? Tentu saja perempuan yang ingin menjadi yeojaku sedikit. Mengingat tampangku yang pas-pasan dan tingkah lakuku yang tidak bisa romantis. Jong Jin jauh lebih menarik daripada aku.

Setelah banyak bercerita tentang hal lainnya, aku mengantar Shayna pulang. Sebelumnya aku membelikan ia permen kapas yang kami makan bersama di padang rumput tempat kami pertama kali bertemu sambil melihat munculnya bulan purnama.

Pemandangan yang indah menurutku saat itu. Mataku kembali membalik halaman yang menggambarkan seragam kami. Kenapa seragam? Kenapa tidak susu rasa melon? Ah, jawaban pertanyaanku ternyata adalah sebagai berikut.

“Aku dan Jong Woon oppa kembali ke tempat kami pertama kali bertemu dengan memakai seragam masing-masing. Pertama kalinya kami pergi keluar rumah menggunakan seragam masing-masing.”

Ya Tuhan.. Apakah semua buku-buku ini berisi tentang aku? Hal-hal sekecil ini pun kau catat sejak kau masih kecil Shayna-ya.  Aigoo.. apakah kau begitu mencintaiku Shayna-ya?

Aku pun menutup buku pertama. Tanganku meraih salah satu buku yang terdapat didekat kaki. Aku pun membuka halaman demi halaman dengan hati-hati. Tulisannya sudah jauh lebih baik. Ia tidak menulis setiap hari. Aku rasa ia menulis hanya saat ia butuh tempat curhat. Ia sangat tertutup. Aku saja baru bisa mengetahui semuanya dari membaca ini. Ah! Aku tertarik pada satu halaman dimana terdapat foto kami berdua di sebuah kedai kopi di Seoul. Aku teringat kembali kenangan perjalan pertama kami ke Seoul.

Tahun 2010, dimana aku akan mengikuti audisi di SM Entertaiment. Eomma ku mengirim aplikasi data diriku secara diam-diam. Aku tadinya tidak percaya diri untuk menginjakkan kaki di depan gedung agensi ternama ini. Tetapi keluargaku serta Shayna dan keluarganya mendukungku. Walaupun appa terlihat tidak begitu setuju. Aku tahu itu dari tatapan matanya dan gerak-geriknya. Mereka memberikan aku semangat yang membuatku lebih percaya diri. Terutama Shayna, karena setiap jam ia terus saja memberikan semangat dan kata-kata positif setiap aku mengeluh tentang betapa aku tidak yakin akan hal ini.

Eomma dan Shayna mengantarkanku hingga depan gedung SM. Shayna memelukku erat dan berbisik dengan suaranya yang lembut. “Suaramu sangat indah oppa. Suara itu hanya dimiliki olehmu seorang. Aku yakin semua orang pasti akan terbuai mendengar suaramu. Bernyanyilah dengan sepenuh hati seperti biasa. Lolos atau tidaknya nanti tidak usah kau pikirkan. Karena aku akan selalu mendukungmu hingga impianmu menjadi penyanyi terkenal tercapai. Tapi aku yakin, kau pasti lolos! Fighting nae Kim Jong Woon oppa!!”

Aku mengeratkan pelukanku padanya dan mencium keningnya sesaat. Sudah menjadi kebiasaan untukku mencium keningnya, setelah pertama kalinya saat ia ulang tahun yang ke 8. Saat itu ia sudah hampir satu tahun berada disini, dan hubungan kami sejak pertama kali berkenalan semakin dekat seperti benar-benar bersaudara. Sehingga aku tidak sungkan untuk memeluknya ataupun sekedar mencium kening atau pipinya. Apalagi kami sudah mengenal sejak kecil bukan?

 “Gomawo Na-ya. Aku akan berjuang!” ujarku sambil melepaskan pelukanku. Aku memeluk eomma dan bergegas masuk ke dalam gedung.

Aku penasaran apa yang ditulis Shayna disini. Aku pun membalik halaman selanjutnya. Benar saja, ada tulisan kecil yang rapih milik Shayna di halaman belakang foto kami.

“Saat tadi ia keluar dari gedung, aku dan eomma berpegangan tangan. Tangan kami berkeringat karena sangat gugup. Jantungku berdebar kencang melihat wajah Jong Woon oppa yang menunduk. Apakah ia lolos atau tidak? Akhirnya ia berada dihadapanku. Ia langsung memeluk eomma dan menciuminya dengan cepat. Ia pun memelukku dengan erat dan mencium kening serta kedua pipiku. Aish.. Apakah ia tidak tahu akibat dari perlakuannya ini? Jantungku semakin berdegup kencang, hampir copot kurasa. Pipiku memerah. Senyuman lebarnya membuatku tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Ia hanya mengangguk dan bilang. “Aku akan ikut trainning mulai bulan depan.” Ya Tuhan.. Akhirnya Jong Woon oppa lolos! Astaga.. Sepertinya ini adalah hal yang membahagiakan dalam hidupku. Melihat impiannya sedikit demi sedikit semakin dekat untuk diraih. Ya Tuhan.. Aku tidak tahu harus berkata apa. Air mataku keluar sedikit demi sedikit. Begitu pula dengan eomma. Kami pun berpelukkan bertiga dengan berlinangan air mata.”

Air mataku menetes mengingat kejadian itu. Selain keluargaku, Shayna dan keluarganya selalu mendukungku, bahkan saat aku mengalami masa-masa paling sulit saat training di SM. Shayna bahkan sampai membolos sekolahnya hanya untuk membawakanku makan siang. Satu yang kusadari sekarang, Shayna sudah mencintaiku sejak ia kecil. Aku membuka buku lainnya secara acak. Aku melihat gambar hati yang patah.

“Ia berkencan. Ya Tuhan.. Aku tidak tahu aku harus bersikap bagaimana pada Jong Woon oppa. Ia selalu menceritakan tentang pacarnya. Aku senang melihatnya senang. Tetapi, sebagian hatiku terasa sakit. Sangat sakit. Aku tidak bisa menangis, yang kurasakan hanya sesak. Yeoja itu sangat cantik. Dia memang bukan pacar pertama Jong Woon oppa. Ia berpacaran pertama kali saat SMA, first kissnya pun dengan yeoja itu. Aaku rasa aku tidak terlalu sakit, karena aku yakin itu hanyalah cinta sesaat. Jong Woon oppa terlihat tertarik, namun aku rasa ia tidak mencintai yeoja itu sedalam aku mencintai oppa. Hahaha.. aku terlalu percaya diri bukan? Tapi itu benar! Tidak sampai 3 bulan, hubungan mereka kandas. Sekarang.. aku rasa Jong Woon oppa mencintai yeoja itu dengan sepenuh hatinya. Apalagi, yeoja itu di Seoul juga. Karir oppa yang semakin menanjak membuatku bahagia sekaligus takut. Ya.. takut akan kehilangannya dan membuatnya dekat dengan artis-artis cantik lainnya. Seperti yeojanya sekarang. Rasanya aku ingin berkencan juga.. Rasanya aku ingin melupakan semua perasaanku pada Jong Woon oppa. Tapi tidak bisa. Semuanya sudah terlalu dalam.. Andai saja kita tidak pernah bertemu, oppa. Tidak.. tidak! Aku yakin takdir mempertemukan kita karena suatu hal.. Walaupun aku harus mengalami patah hati berulang kali saat kau menceritakan yeoja-yeojamu.”

Jika kuingat-ingat sekarang, Shayna tidak pernah berkencan dengan siapapun. Ia hanya mempunyai beberapa sahabat pria. Itupun aku selalu berusaha menjauhkan Shayna dengan sahabat-sahabatnya. Saat itu aku berpikir aku harus menjaga adikku. Bodohnya, aku tidak tahu itu adalah perasaan cemburuku. Aku begitu bodoh! Tidak bisa membedakan cinta atau sayang terhadap adik. Padahal degup jantungku setiap bersama Shayna seharusnya bisa menjadi tanda, tapi sungguh, aku terlalu bodoh untuk menyadari itu semua.

Aku mencari buku terbaru. Aku ingin tahu perasaan Shayna saat ia kembali ke Korea. Hanya dengan membuka buku-buku diary bergambarnyalah aku dapat mengetahui perasaan Shayna dimasa lalu. Ia sangat tertutup. Ia pandai menyembunyikan semuanya ternyata. Aku berjanji, aku akan membuatnya menceritakan apapun padaku saat bertemu dengannya.

Aku pun membuka buku dengan nomor 15 dipojok kanan covernya. Terdapat tiket pesawat dari Indonesia menuju Korea saat ia pulang kemarin ini. Disampingnya, ia menulis Akhirnya aku kembali ke rumah. Jong Woon oppa.. Aku..” sepertinya ia ingin menulis sesuatu, tetapi terhenti begitu saja. Membuatku penasaran. Dibelakang tiket, ada foto aku, Jong Jin dan Shayna saat aku menjemputnya. “Surprise! Ternyata aku dijemput kakak-beradik Kim. Ya Tuhan! Jong Jin oppa semakin tampan. Apalagi Jong Woon oppa. Argh.. aku ingat ketika ia memelukku erat saat di bandara tadi. Kakiku sepeti meleleh. Haha.. tapi, entah kenapa aku merasa sangat gugup. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu dengannya ya? Diary, aku sekarang berada di kamar Jong Woon oppa. Wangnyai yang sudah lama aku tidak hirup, wewangian yang sangat aku suka, terasa sangat kental saat ini. Kalau saja.. Hahaha.. Imajinasiku terlalu liar! Aku bahkan terlalu malu untuk menulis disini. Neo baboya, Na-ya! Haha..”  itulah tulisan yang ia buat disamping foto kami bertiga. Aku penasaran dengan apa yang ada dalam pikiran Shayna.

Aku membalik halaman selanjutnya, halaman tersebut penuh dengan warna hitam. Dibaliknya hanya ada beberapa kata, “Aku tahu ia sudah mempunyai kekasih sejak aku di Indonesia. Ji Hyeon eonni memang sangat cantik & seksi. Siapa pula yang tidak akan suka dengannya? Aku juga sudah terbiasa mendengarnya bercerita tentang kekasih-kekasihnya sejak ia SMA. Entah itu tentang perasaanya, kekesalannya, tentang ia berciuman dengan wanita-wanita itu. Yah, aku sudah mulai terbiasa. Tapi, baru kali ini aku melihat ia berciuman dengan kekasihnya di depan mataku. Ya, kemarin..  Sakit. Sakit.. aku..”

Hatiku berdenyut nyeri saat membaca tulisannya. Aku lihat dengan jelas, ada bekas air matanya disini. Ia tidak sanggup menulis. Ia menangis. Aku membuatnya menangis. Hatiku sudah tidak kuat untuk melanjutkan membaca, namun aku mempunyai firasat bahwa aku bisa menemukan paling tidak satu clue dari buku-buku ini.

“Ia mengetahui perasaanku. Kami nahkan baru menikah satu hari dan semua berawal dari malam pertama kami. Aku mengharapkan makan malam berdua dengan Jong Woon oppa.. tapi Jong Woon oppa malah kencan dengan Ji Hyeon. Tidak cukup sampai disitu, Kyuhyun oppa mengacaukan segalanya, membuat Jong Woon oppa tahu perasaan yang sudah kupendam untuknya sejak kecil. Dan sekarag, sudah hampir 2 minggu Jong Woon oppa tidak pulang ke apartemen kami. Oppa, tahukah kau kalau aku merindukanmu? Aku tahu, kau pasti jijik denganku. Seorang gadis yang sudah kau anggap adik, malah mencintaimu. Maafkan aku. Aku tidak meminta lebih darimu, oppa. Tidak pernah. Dengan melihatmu saja aku sudah senang. Mendengar suaramu, cerita-ceritamu bahkan tentang kekasihmupun tidak apa-apa. Asalkan kau masih mau bicara denganku. Maafkan aku karena sudah mencintaimu. Kau tahu? Kalau saja aku tidak mencintaimu, aku ingin pergi ke Kanada untuk melarikan diri dari semua ini. Ya, Negara yang sama-sama kita sukai. Aku harap kau segera pulang.”

Perasaan bersalahku semakin menjadi. Dan mataku tidak dapat berhenti ketika membuka halaman selanjutnya. Ia menggambar koper kecil yang memang hilang dari kamarnya saat ia pergi. Aku membacanya dengan perasaan yang semakin bercmapur aduk.

“Ji Hyeon eonni datang ke apartemen kita, oppa. Setelah kemarin malam aku melihat kertas-kertas yang bertuliskan Ji Hyeon hamil karenamu. Yah, pagi ini dia datang. Ia menangis padaku. Ia bilang, anak dalam kandungannya adalah benar-benar anakmu. Ia juga memperlihatkan foto-foto kalian di hari kau menyentuhnya, oppa. Jangan tanya perasaanku. Aku ingin mati melihatnya. Ji Hyeon eonni memintaku untuk bercerai denganmu, oppa. Demi anak kalian. Tapi.. Aku tidak bisa bercerai darimu. Aku tahu aku egois, hanya saja aku ingin menikah hanya denganmu. Jong Woon oppa, jika kau pulang malan ini, mungkin akan menjadi pertemuan terakhir kita. Aku memutuskan untuk pergi darimu, dari keluarga kita, dari semuanya. Aku bebaskan kamu untuk menikah lagi dengan Ji Hyeon, tanpa bercerai dariku. Tidak usah mencariku. Hahaha.. Aku terlalu PD bukan? Aku yakin kau tidak akan bersusah payah mencariku. J Tapi jika kau menemukan buku ini, tolong sampaikan pada keluargaku, aku tidak pergi jauh. Aku masih dapat melihat kalian semua dari dekat. Hanya saja, aku tidak akan menampakkan batang hidungku untuk beberapa waktu. Semoga kau berbahagia dengan Ji Hyeon dan anakmu.”

TBC

8 Comments
  • relf
    Posted at 20:59h, 24 June Reply

    Lanjutin dong sis cerita nya. Makin seru neh

    • nhawina
      Posted at 12:40h, 29 June Reply

      sipp.. makasih udah ngikutin.. tunggu kelanjutannya ya^^

  • Viana
    Posted at 09:02h, 25 June Reply

    Shayna nya pergi kemana sihh apa dia masih di seoul atau dia ada di cheonan duhh penasaran bngt next thor

    thor kapan nih song for you di lanjut?

    • nhawina
      Posted at 12:41h, 29 June Reply

      hayo dimana yaa.. Kkk..
      song for you nya pending dulu sampai My All is in You selesai sepertinya..
      lg sibuk thesis, jd waktu buat ffnya agak berkurang.. huhu T.T *curcol

  • wafa
    Posted at 21:34h, 03 July Reply

    makin tegang aja nihh.. Di tunggu chapter selanjutnya thor,,

    • nhawina
      Posted at 09:05h, 06 July Reply

      okee.. makasih yaa..^^ bakal agak lama update, tapi tunggu aja.. 😉

  • Ayuu
    Posted at 10:50h, 15 August Reply

    Thor, next dong. Ga sabar nih sm kelanjutannya. Hehe..
    Song for you nya juga di tunggu kelanjutannya thor ?

  • Yuka Asrianti
    Posted at 13:52h, 30 December Reply

    Pasti dia kabur ke Canada . Pengen gue timpuk si yesung beneran ????????????

Post A Comment