Song for You (Chapter 9)

IMG_6205-3

27 Dec Song for You (Chapter 9)

Author: nha_wina

Title : Song for You (Chapter 9)

Cast :

1. Kim Jong Woon (Yesung)

2. Choi Shayna

3. Member SJ

4. Park Tae Min

Genre : Romance

Rating : PG-15

Length : Chapter

Catatan : FF ini juga dipublish di blog pribadi author https://nhawina.com

Selamat menikmati..

“Choi Shayna benar-benar membuatnya seperti orang bodoh.” Gumam Donghae, namun terdengar oleh semua member karena keadaan dorm yang sepi.

“Choi Shayna mampu membuatnya menjadi pria romantis.” kata Eunhyuk, disahut dengan tawa Kyuhyun. Semua mata langsung tertuju pada Donghae, Kyuhyun dan Eunhyuk yang entah sejak kapan sedang berdiri di pojokan ruang bersama dekat dapur.

“Yak! Kembalikan handphoneku!” teriak Yesung.

“Hyung, kau benar-benar jatuh cinta padanya. Tapi sepertinya dia hanya..”

Yesung mengambil kembali ponselnya dari tangan evil magnae, “Ara, ara. Aku sedang berusaha.” Sahut Yesung kesal.

“Bagaimana dengan Siwonnie?”

“Gadis itu masih di rumahmu?”

Tanya Heechul dan Kangin berbarengan.

and the story begins..

“Ya Tuhan.. Tidak bisakah aku hidup dengan tenang?” kata Yesung lebih pada dirinya sendiri.

Yak! Baru kali ini kisah cintamu bisa kami ikut campuri. Selama 10 tahun lebih bersama, baru kali ini kau seakan-akan terbuka tentang yeoja, Jong Woon-a.” teriak Heechul sambil menjitak kepala Yesung, sedangkan yang dijitak hanya tertawa-tawa.

“Jadi bagaimana?” tanya Sungmin dengan tenang.

“Yah.. doakan saja.” Yesung sekarang mulai mencoba fokus kembali pada teman-temannya. “Shayna baru saja pindah 3 hari lalu. Sayang, ia sangat sibuk sehingga belum sempat memberi salam pada kita, tetangga barunya. Kita juga sibuk sekali kan akhir-akhir ini,” jelas Yesung yang dijawab kata ‘O’ berbarangan dari para member.

Kyuhyun menepuk pundak Yesung dengan wajah prihatin, “Pantas saja hyung seperti kekurangan vitamin. Ternyata sudah 3 hari tidak bertemu Shayna ya… Ckckck..”

Tawa member meledak mendengar ledekan Kyuhyun, yang dibalas jitakan Yesung pada Kyuhyun.

Shayna POV

Han River.

Lagi-lagi aku kembali kesini. Entah sudah kesekian kalinya dalam seminggu ini aku duduk dikursi pinggir Han River. Sudah hampir dua minggu pula aku pindah ke apartemen baruku. Sayang, para member SJ sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan album baru.

Yesung oppa, Kyuhyun oppa, Donghae oppa kerap kali mengajakku ke studio rekaman, namun aku selalu menolak dengan berbagi macam alasan. Kalau saja ada Siwon oppa, mungkin aku akan ikut. Setidaknya ada alasan ‘wajar’ bagiku untuk ikut.

Yesung oppa. Namja itu selalu berhasil membuatku tersenyum, bahkan tertawa belakangan ini. Aku juga mulai nyaman untuk berbicara apapun tentang semua hal walau hanya lewat aplikasi messenger. Dari hal-hal kecil seperti resep kue baru yang gagal kubuat, hingga hal besar seperti Tae Min yang masih menggangguku.

Ya, cowok gila itu masih sering meneleponku, entah sekedar menanyakan kabar, hingga kemarin ini menanyakan aku pindah kemana. Malamnya, ketika Yesung oppa dan Kyuhyun oppa datang bermain –meminta makanan lebih tepatnya– ke apartemenku, mereka sangat marah sampai-sampai menelepon balik Tae Min dan berteriak keras padanya untuk tidak menggangguku lagi.

Sejauh ini hidupku sudah mulai rileks, sudah mulai berwarna lagi karena hampir setiap hari melihat tingkah konyol para tetangga sebelah alias member SJ. Hanya saja, hatiku terasa kosong. Sakitnya masih terasa. Orang yang kau cintai sepenuh hati, selama 7 tahun tiba-tiba mengkhianatimu tanpa aba-aba, dengan teman sepermainanku juga. Rasanya dunia hancur saat itu. Sekarang aku sedang mencoba membangun kepercayaan diriku lagi, mecoba ‘hidup’ kembali.

Aku melangkah menuju pinggiran sungai, dan merentangkan tangan, rasanya segar sekali menghirup udara sisa-sisa musim semi yang sebentar lagi berakhir. Aku memejamkan mata, mencoba menikmati suasana ini, sampai ketika kurasa handphone di dalam kantong jinsku bergetar.

Tulisan ‘Y oppa’ berkedip-kedip memanggilku. Entah bagaimana, melihat nama itu dilayar ponsel membuatku tersenyum.

Ne, yeoboseyo, Yesung oppa.”

Terdengar dehaman suara berat Yesung oppa diseberang sana, sebelum ia menjawab, “Na-ya, apakah kau tahu, kapan pertama kali kita bertemu?”

Aku mengerenyitkan dahiku ketika mendengar pertanyaannya yang menurutku sangat aneh, “Saat kecelakaan itu bukan?” kataku sangat yakin.

Tawa kecil Yesung oppa terdengar disertai batuknya, membuatku bertanya lagi, “Oppa gwenchanayo? Sepertinya kau sedang sakit?”

Eung. Aku nggak apa-apa. Hanya sedikit tidak enak badan, karena perubahan cuaca,” jawabnya.

“Na-ya, kita sudah bertemu jauh hari sebelum kejadian kecelakaan itu,” lanjut Yesung oppa membuatku bingung.

“Bagaimana bi..”

“Na-ya, bagaimana kalau aku menceritakan terlebih dahulu wanita yang aku sukai selama ini?” potong Yesung oppa cepat.

Tanpa menunggu jawabanku, ia bercerita,”Saat itu, aku sedang berjalan-jalan di Sungai Han. Sampai mataku terpaku pada satu sosok yang sedang merentangkan tangan. Ah, ia mengenakan baju biru dan rok hitam, seingatku. Rambut ikal gantungnya tergerai indah, aku terdiam dibelakangnya beberapa saat sebelum ia mencari tempat duduk. Ya, sama seperti sekarang..”

“Seka…” Aku membalikan badan saat kurasa suara Yesung oppa terdengar sangaaaaat dekat dibelakangku. Akupun hanya bisa terdiam melihatnya tersenyum sambil memijit handphonenya untuk mematikan sambungan telepon kami.

Oppa..”

“Aku menyukaimu, Na-ya. Aku menyayangimu.”

“Tapi..”

Yesung oppa menepuk bahuku pelan, menuntunku untuk duduk dikursi taman bersamanya. “Na-ya, izinkan aku untuk dekat denganmu. Mungkin hatimu belum sembuh, tapi aku rasa aku bisa mengobatinya suatu hari nanti. Sebetulnya aku tidak butuh persetujuanmu, hanya cukup kau ingat, aku akan selalu ada untukmu, seperti bayangan yang selalu ada denganmu. Hanya saja, tidak sebagai kakak atau teman Choi Siwon, tetapi sebagai pria yang menyanyangimu” katanya panjang lebar.

Kurasakan panas tangannya yang berbeda dari biasanya, aku sangat tersanjung mendengarnya. Hanya saja aku tidak tahu harus berkata apa. Mulutku terasa kelu untuk membalas ucapannya, perhatianku juga teralihkan oleh suara batuknya yang semakin menjadi. “Oppa, kita ke rumah sakit sekarang juga.” Ucapku tegas sambil menyeretnya ke parkiran mobil.

TBC

No Comments

Post A Comment