Kuliah di Korea Selatan, Enak Nggak Sih?

wallpaper_by_heeartbreaktutorials-d8p1s96

13 Apr Kuliah di Korea Selatan, Enak Nggak Sih?

Hai hai hai..

Kemarin ini (udah lamaaaaa banget) bikin polling di Insta Story, milih cerita tentang kuliah di Korea atau tentang cari rumah (kosan/kontrakan) di Korea. Nahh.. beda tipis antara keduanya, tapi yang paling banyak dipilih adalah cerita tentang kuliah di Korea.

Maaf ya, lama banget updatenya.. pollingnya kapan, eh updatenya beribu masa kemudian, haha..

Sebelum dimulai, isi tulisan ini murni dari pendapat saya, pengalaman saya, pengalaman teman-teman saya selama disini. Terus juga di dalam artikel ini saya nggak akan bahas tentang bagaimana cara dapetin beasiswa A, B, C, dst.

Please, jangan tanya pertanyaan semacam, “syarat kuliah disana apa aja? beasiswa buat kesana ada dari mana aja? gimana cara apply-nya?”  Kalau kalian mau tau, bisa googling sendiri yaa… Bukan nggak mau bantu, tapi pertanyaan semacam itu jawabannya kalian bisa cari sendiri.  Ada yang pernah nulis, kalau seleksi awal untuk bisa kuliah keluar negeri itu adalah mandiri dalam mencari informasi. Berani bertanya bagus, tapi please, cari dulu jawaban sebisa mungkin, kalau mentok, baru bertanya :)

Well, sepakat yaa.. hehe.. kita mulai…

Perbincangan pertaman tentang kuliah di luar negeri pastinya adalah beasiswa (kalau dana sendiri sih beda judul ya >.<). Saya kuliah di Chungnam National University, Daejeon dengan menggunakan beasiswa dari Kofpi (dulu namanya KGPA). Banyak macam beasiswa untuk S2-S3, yang sering saya dengar adalah Beasiswa Professor, Beasiswa LPDP, Beasiswa KGSP, Beasiswa Universitas. Besaran jumlah uang saku yang didapat pun beragam.

Kita range aja ya, untuk bayangan kalian (untuk S2) :)

Penerima Beasiswa LPDP dan Beasiswa Universitas kira-kira dapat 1,000,000 won – 1,200,000 won/ bulan. Besar? iya. Tapi untuk Beasiswa Universitas, biasanya uang saku tersebut harus bisa kita sisihkan untuk bayaran SPP /semester. Belum lagi untuk tempat tinggal (asrama, kos atau kontrakan) dan buku kuliah. Untuk Beasiswa LPDP saya kurang tahu, harus menyisihkan uang SPP atau tidak dari uang saku tersebut, mungkin yang ikut beasiswa LPDP bisa bantu komen untuk menambahkan informasi :) Oh ya, jumlah diatas lebih dari cukup lho ya, hehe.

Lain lagi dengan penerima Beasiswa KGSP dan Kofpi. Uang saku dari KGSP dan Kofpi kira-kira dapat 900,000 won – 1,000,000 won/bulan. Karena saya kurang tahu rincian untuk Beasiswa KGSP, saya akan rinci sedikit benefit yang didapat dari beasiswa Kofpi saja ya.. Uang saku diatas sudah bersih untuk makan dan tempat tinggal, karena SPP/semester ditanggung Kofpi. Begitupula untuk beli buku yang dibutuhkan (ex: buku belajar bahasa korea), dapat 200,000 won/semester. Intinya, bisa lebih banyak nabung sebenernya kalau nggak boros (nunjuk diri sendiri) heheh 😀

Naah.. untuk penerima Beasiswa Profesor, kira-kira dapat uang saku sebesar 700,000 won – 1,000,000 won/ bulan. Sama seperti Beasiswa Universitas, uang saku tersebut harus disisihkan untuk bayaran SPP/semester, beli buku ,dsb. Hanya ingin membantu mengingatkan bagi penerima beasiswa profesor, please buat perjanjian sejelas-jelasnya tentang uang saku. Buat surat yang jelas, hitam d atas putih. Karena banyaaaak sekali yang bermasalah tentang uang saku ini, yang nanti akan saya bahas di bawah :)

Berikutnya, kita bicara tentang pengalaman kuliah di Korea Selatan :)

Pengalaman saya pribadi, Alhamdulillah menyenangkan. Saya adalah mahasiswa asing pertama yang diterima di lab-nya profesor saya, dan profesor saya kurang fasih ber-Bahasa Inggris. Jadi saya selalu komunikasi dengan teman lab saya yang bisa berbahasa inggris, Dong-Gol Oppa. Lab kami termasuk lab “bersih”, dimana tidak ada bahan-bahan kimia ataupun alat-alat besar di dalamnya. Hanya seperti kantor, dimana terdapat bilik-bilik untuk meja masing-masing mahasiswa/i di lab kami. Lab kami juga termasuk lab “kecil”, dibandingkan lab lain, lab kami hanya beranggotakan 8 orang (1 profesor, 1 bagian administrasi, 2 mahasiswa/i S3, 4 mahasiswa/i S2).

Kami saling membantu satu sama lain, perempuan dilab hanya saya, Kang songsaenim (administrasi) dan DaWou eonni (mahasiswi S3), selebihnya oppa-oppa semua, hahaha… Oh ya, sejak awal, profesor meminta saya hanya fokus untuk penelitian saya, yang berarti tidak perlu membantu proyek-proyek beliau dan teman-teman lab. Profesor kami terkenal sebagai Profesor terbaik dan tersabar di Departemen. Beliau perfeksionis, tapi setiap meeting lab juga beliau selalu menanyakan keadaan kami. Stress atau tidak? ada masalah dengan teman, pacar atau keluarga atau tidak? setiap meeting lab hampir selalu diakhiri sesi curhat-curhatan 😀

Saat saya akan menikah, profesor dan teman-teman bertanya, apakah benar saya sudah siap, mereka juga meminta saya membawa Mas Ganis untuk berkenalan dengan mereka. Mereka menganggap saya “adik” mereka, padahal kalau dipikir-pikir kami baru kenal satu sama lain selama 3 bulan-an. Saat saya hamil, mereka memaklumi saya untuk datang telat karena morning sick. Saat melahirkan pun, profesor memberi kesempatan untuk istirahat selama 2 bulan. Pada waktunya, ketika harus kembali ke lab, Callista yang saat itu baru berusia 3,5 bulan terpaksa harus saya titipkan ke penitipan anak. Seharusnya saya pulang pukul 6 sore, tapi lagi-lagi profesor dan teman-teman memberi saya kelonggaran untuk pulabngg pukul 3 sore, agar bisa segera menjemput Calls. Baik.. sangat baik “keluarga” saya di lab, sampai-sampai ketika lulus berat bagi saya membersihkan meja dan keluar lab.

Itulah gambaran singkat masa-masa kuliah saya. Setiap saya bercerita, semua orang yang kuliah di Korea Selatan akan berkata, “Sumpah? Seperti itu? Profesor kamu, lab kamu, 1 banding sejuta! Nggak ada Profesor dan teman-teman lab sebaik itu!! Beruntungnya kamu.” Suami saya sendiri sampai berkata, “Profesor kamu aneh, baik bangeeeeetttt.”

Alhamdulillah, Alhamdulillah. Saya selalu bersyukur.

Eh, memangnya Wina nggak pernah ada pengalaman buruknya? Ada! Tapi bukan dari profesor sendiri, bukan dari lab sendiri. :) Saya pernah disuruh buka kerudung setiap mata kuliah salah seorang profesor di departemen saya. Tapi Alhamdulillah, Dong Gol oppa selalu memberikan pengertian dan membela saya. Perasaan saya? sakit hati, setiap kelas profesor tersebut, saya selalu deg-degan, selalu resah karena takut.

Kalian pasti bertanya, seburuk apa sih memangnya kuliah di Korea? Kok begitu saja dibilang nggak mungkin ada profesor sebaik Profesornya Wina? Memangnya profesor yang lain jahat-jahat?

Well, jawabannya, 80% profesor di Korea sangat demanding. Saya bercerita tentang mahasiswa yang nge-lab dan juga mahasiswa yang mendapatkan beasiswa profesor & universitas. Simpelnya sih, kalau kita dapat beasiswa dari profesor atau universitas, berarti kita bersedia menjadi ‘bawahannya’ profesor tersebut. Mulai dari membuat paper, poster, dan sebagainya. Masuk lab jam 9 pagi, normalnya pulang jam 6 sore. Tapiiiii… itu hanya tertera di kertas, kenyataannya 90% teman-teman saya yang mendapatkan beasiswa profesor pulang jam 12-2 pagi. Tidak jarang juga, pelajar yang mendapatkan beasiswa KGSP, LPDP pun mengalami hal serupa. Beberapa profesor “tahu diri” untuk tidak me-‘nekan’ mahasiswa LPDP dan KGSP seperti mereka menekan mahasiswa yang mendapat beasiswa profesor, beberpa lainnya tidak mau tahu.

Masalah yang banyak terjadi kalau mendapatkan beasiswa profesor juga adalah uang saku yang sering terlambat. Terkadang disatukan untuk 3 bulan. Bersyukur kalau jumlahnya sesuai kesepakatan awal, terkadang mereka suka memotong seenak jidat, sehingga banyak mahasiswa disini yang sering kelimpungan karena hal tersebut.

Kalau kalian tidak nge-lab, aman. Kalian hanya kuliah, pulang, kerjain tugas-tugas, ujian. Tidak ada kewajiban untuk lab dan profesor. 😀

Sekali lagi, melalui tulisan ini saya ingin mengingatkan teman-teman yang berniat untuk emngikuti program beasiswa dari profesor (dan nge-lab) untuk selalu memastikan uang saku, memastikan profesor kalian seperti apa, lab kalian seperti apa. Tanya pada orang-orang yang sekiranya kuliah di universitas yang kalian tuju. Cara mencarinya? Facebook. Ya, kami mahasiswa Korea mau tidak mau menggunakan FB, karena semua informasi teman-teman lab, dan komunitas pelajar Indonesia ada disana :)

Saya ini tidak bermaksud menjelek-jelekan kuliah disini, ataupun menakut-nakuti kalian yang ingin kuliah disini. Hanya saja sudah banyak korban dari beasiswa profesor (yang nge-lab, ya), sehingga saya merasa harus berbagi, harus sharing tentang hal ini.

Intinya, harus berhati-hati dalam menerima beasiswa, terutama bagi penerima beasiswa profesor.

Please, pastikan uang saku kalian aman selama disini. :)

So, kuliah di Korea Selatan enak apa enggak sih? Jawaban saya, Insya Allah enak. Asalkan selalu berhati-hati^^

 

 

6 Comments
  • Sifa Leni Nurliyani
    Posted at 08:38h, 18 September Reply

    Mau tanya kak, katanya kalo kuliah disana umurnya max. 25 th kok kak wina udah menikah? Brrti umur kakak sudah lebih dari umur 25 th dong kak?

    • nhawina
      Posted at 16:20h, 19 June Reply

      halo, maaf baru buka lagi web ini *bersihin debu* hehe.. tahun ini insya allah usia saya 28 :) waktu di terima S2 di sana, usia saya baru 23. Kalau untuk pendaftaran S2 dan S3 setau saya tidak ada batas minimal atau maksimal usia kok :) cmiiw..

  • Erna
    Posted at 00:11h, 29 September Reply

    setau saya orang korea cenderung gak suka sama muslim, jilbab, dll. susah gak sih kak buat kita yang berhijab untuk survive dilingkungan yang seperti itu? Terima kasih

    • nhawina
      Posted at 16:25h, 19 June Reply

      halo, maaf baru bales.. baru buka web lagi nih ^^ hmm.. waktu awal-awal ke korea tahun 2014 sih memang masih sedikit banget yang berhijab, apalagi di daerah Daejeon tempat saya kuliah. Tapi, akhir 2015 sudah mulai banyak lho yang berhijab di Daejeon, kebayangkan, daerah Daejeon aja udah banyak, gimana di Seoul, pastinya lebih banyak lagi. ditambah dengan semakin banyaknya wisatawan dari Malaysia dan Indonesia yang memang sebagian besar berhijab :) Adaptasi pertama sih pastinya susah, dengan bahasa korea saya yang masih level ecek2, bahasa inggris yang tidak terlalu fasih, hehe.. tapi kalau kita baik, mereka pasti baik juga. Cara survivenya? sering-sering keluar rumah, belanja di pasar (jangan ke supermarket) biar banyak ngobrol sama ahjuma2 di sana, cz dengan gitu kita bisa nambah kosakata dan bisa diterima di lingkungan deket tempat tinggal. Gitu juga kalau kuliah, sering2 main sama temen se-lab. 😀

  • Renata Nancy
    Posted at 15:15h, 06 April Reply

    Kk, aku mau nnya.. kalo semisal lulusan d3 boleh hk ya ikut KGSP? Krn yg aku tau mak umurnya 25 thn. Thank U

Post A Comment